El Nino Kuat Bikin 98 Zona Musim yang Biasa Hujan Sepanjang Tahun Ikut Kekeringan, BMKG Catat Data Terbaru

Berita Daerah
Siti RahmawatiSiti Rahmawati
Sumber: Antara News
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

El Nino Kuat Bikin 98 Zona Musim yang Biasa Hujan Sepanjang Tahun Ikut Kekeringan, BMKG Catat Data Terbaru
BAGIKAN:

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sebanyak 98 Zona Musim (ZOM) yang biasanya memiliki curah hujan sepanjang tahun kini ikut mengalami kekeringan akibat fenomena El Nino kuat. Data ini menandai anomali cuaca ekstrem yang memukul wilayah-wilayah langganan hujan di Indonesia secara bersamaan.

Pencatatan resmi BMKG menunjukkan angka 98 ZOM tersebut bukan sekadar fluktuasi musiman biasa. Wilayah-wilayah ini selama bertahun-tahun dikenal sebagai kantong air karena intensitas hujannya yang nyaris tidak pernah berhenti. Kini, kondisi tanah di zona-zona itu berubah drastis menjadi kering kerontang seiring menguatnya suhu permukaan laut di Pasifik ekuatorial.

Fenomena El Nino sendiri memang bukan hal baru bagi iklim tropis kita. Namun, intensitas kategori kuat yang terjadi saat ini membawa dampak jauh lebih destruktif dibandingkan siklus-siklus sebelumnya. Ketika anomali suhu laut ini mencapai puncaknya, pola sirkulasi angin global berubah total dan memblokir pembentukan awan hujan di atas kepulauan Nusantara.

Dampak fisik dari kekeringan masif ini sudah terlihat jelas di lapangan. Sektor pertanian menjadi pihak pertama yang menanggung pukulan telak. Lahan-lahan persawahan yang mengandalkan pasokan air dari curah hujan alami terpaksa menganggur karena sumber air menyusut tajam. Petani kehilangan momentum tanam dan terancam gagal panen dalam skala luas.

Bagi masyarakat umum, hilangnya pasokan air di 98 ZOM ini berpotensi memicu krisis air bersih yang berkepanjangan. Wilayah permukiman yang bergantung pada mata air pegunungan atau sungai tadah hujan bakal menghadapi tekanan serius. Ketersediaan bahan pangan pokok juga terancam bergejolak jika masa tanam tertunda terlalu lama tanpa intervensi teknologi modifikasi cuaca yang memadai.

Analisis Redaksi

Menguatnya El Nino hingga melumpuhkan 98 ZOM yang biasanya basah sepanjang tahun adalah alarm keras bagi tata kelola sumber daya air nasional. Selama dua dekade meliput isu lingkungan, saya melihat pola berulang: pemerintah selalu reaktif saat kemarau tiba. Angka 98 ZOM ini membuktikan bahwa infrastruktur penampungan air kita belum siap menghadapi anomali iklim berskala besar. Waduk-waduk yang ada tidak cukup menyangga defisit ketika hujan benar-benar absen di wilayah langganan basahnya.

Yang perlu diwaspadai sekarang bukan sekadar kekeringan fisik, melainkan efek dominonya terhadap inflasi pangan. Jika puluhan zona musim gagal menyuplai hasil panen tepat waktu, lonjakan harga beras dan palawija tinggal menunggu hitungan bulan. Pemerintah pusat harus segera memetakan daerah mana saja dari 98 ZOM tersebut yang merupakan lumbung pangan utama agar distribusi logistik bisa disiapkan sejak dini.

Langkah selanjutnya secara logis menuntut koordinasi lintas kementerian yang lebih solid antara BMKG, Kementerian Pertanian, dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana. Operasi teknologi modifikasi cuaca perlu difokuskan pada ZOM-ZOM kritis yang masih memiliki potensi uap air residual. Tanpa mitigasi terukur dan cepat, ancaman krisis pangan dan air bersih akan berubah dari proyeksi statistik menjadi kenyataan pahit di depan mata rakyat.

Meow! Tanya Nesi!
😸