Identifikasi Jenazah ABK KM Arupadatu 1 di Enggano, Kronologi Tragedi Hilangnya Jurnalis

Kriminal
Budi SantosoBudi Santoso
Sumber: CNN Nasional
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Identifikasi Jenazah ABK KM Arupadatu 1 di Enggano, Kronologi Tragedi Hilangnya Jurnalis
BAGIKAN:

Direktur Reserse Kriminal Polda Banten resmi mengidentifikasi satu dari kru KM Arupadatu 1 yang hilang kontak saat membawa lima jurnalis meliput erupsi Gunung Anak Krakatau pada 7 September lalu. Jenazah tersebut teridentifikasi sebagai Surakman, seorang anak buah kapal (ABK) dan ayah kandung dari satu korban hilang bernama Yayat. Penemuan ini terjadi berbulan-bulan setelah operasi pencarian darat dan laut selama 10 hari awal dinyatakan gagal.

Kapolda Banten Irjen Hengki merinci kronologi identifikasi yang bermula dari laporan penemuan mayat di perairan Sawang Bengkok, Desa Khayapu, Kecamatan Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara. Jenazah ditemukan pada 12 September, atau lima hari setelah kapal rombongan jurnalis itu berhenti mengirim sinyal. "Hari kelima pencarian, kita mendapat informasi dari Bengkulu... ditemukan seorang jenazah, Mister X," ungkap Hengki dalam konferensi pers di Polda Banten pada Rabu (23/9).

Selanjutnya, koordinasi cepat dilakukan antara Polda Banten dan Polda Bengkulu. Jenazah yang saat ditemukan mengenakan celana pendek hitam dengan tinggi sekitar 163 cm dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Polda Bengkulu. Dari sana, Biddokkes Polda Banten mengirimkan data ante-mortem dan post-mortem dari delapan keluarga korban untuk diproses oleh Pusdokkes Polri.

Proses verifikasi melibatkan Tim Disaster Victim Identification (DVI) yang memeriksa data primer seperti sidik jari, gigi, dan DNA. Hasil analisis genetik dari Pusdokkes Polri menyatakan bahwa jenazah dengan kode PM/62/P.Enggano/01 tersebut cocok secara biologis dengan data keluarga korban. "Teridentifikasi sebagai Surakhman atau ABK kapal, ayah biologis dari Tuan Yayat," tegas Hengki, mengonfirmasi hubungan darah dengan salah satu penumpang yang dilaporkan hilang.

Peristiwa ini mengungkap kelangsungan nasib kapal dan jurnalis yang meliput aktivitas vulkanik di Selat Sunda tersebut. Dari total delapan orang yang kehilangan kontak, satu kru kapal kini telah teridentifikasi, sementara nasib lima jurnalis dan anggota kapal lainnya masih menjadi misteri. Penemuan di Pulau Enggano menjadi petunjuk fisik pertama yang konkret setelah tiga pekan kevakuman informasi mengenai keberadaan kapal.

Analisis Redaksi

Identifikasi Surakman sebagai jenazah Mister X bukan sekadar pemenuhan formalitas data, melainkan pengungkapan fakta kelangsungan hidup kru kapal yang terpisah dari tim jurnalis. Dalam konteks kecelakaan pelayaran, kru kapal sering kali menjadi kelompok rentan yang terpisah dari penumpang atau tim utama saat insiden terjadi. Temuan di Pulau Enggano, yang terletak jauh dari jalur pelayaran utama Selat Sunda, mengindikasikan kemungkinan adanya perpecahan korban sebelum kapal tenggelam atau hanyut ke perairan Bengkulu.

Apa yang perlu diwaspadai publik adalah potensi keterlambatan respons darurat di wilayah perairan antara Lampung, Jawa, dan Bengkulu. Dengan jarak tempuh yang cukup jauh, kelangsungan operasional SAR menjadi krusial. Jika satu ABK ditemukan terpisah dari lokasi kejadian utama, besar kemungkinan ada korban lain yang terseret arus menuju pesisir Bengkulu. Hal ini menuntut perlunya perluasan radius pencarian dan koordinasi lintas daerah yang lebih ketat di masa mendatang untuk mencegah kehilangan total data korban.

Langkah logis selanjutnya dari aparat adalah memetakan kemungkinan adanya puing-puing kapal atau korban lainnya di pesisir Enggano dan wilayah sekitarnya. Data DVI yang akurat menjadi kunci untuk memisahkan dugaan dari fakta. Bagi keluarga korban, informasi ini memberikan kepastian hukum atas satu nyawa, namun sekaligus menegaskan bahwa kasus kehilangan jurnalis dan awak kapal masih belum tuntas secara menyeluruh.

Meow! Tanya Nesi!
😸