Dishub DKI Ubah Marka Jalur Sepeda, Komunitas B2W Minta Uji Coba Lebar Lajur
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta resmi mengubah strategi pengelolaan infrastruktur sepeda di ibu kota. Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta Budi Awaluddin mengumumkan rencana penggantian marka pembatas stick cone menjadi paku marka jalan serta penyesuaian lebar jalur sepeda. Langkah ini merupakan tindak lanjut dari rekomendasi audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP), sekaligus merespons kebutuhan keselamatan pesepeda yang kian mendesak.
Budi menjelaskan bahwa perubahan material pembatas didasarkan pada pertimbangan menyeluruh. "Untuk pembatas jalur sepeda yang menggunakan stick cone disarankan diganti dengan menggunakan paku marka jalan hal ini ditinjau dari segi keselamatan, estetika, kemudahan perawatan dan nilai ekonomis," tulis Budi melalui pesan singkat kepada CNNIndonesia.com, Selasa (22/9) malam. Keputusan ini diambil setelah evaluasi mendalam terhadap efektivitas penggunaan kerucut plastik yang kerap dianggap kurang stabil dan mengganggu pandangan pengendara lain.
Selain mengganti jenis pembatas, Dishub juga menargetkan penataan ulang desain fisik di koridor utama. Planter box atau kotak tanaman yang berada di sepanjang Jalan Jenderal Sudirman hingga Jalan MH Thamrin masuk dalam radar evaluasi. Menurut Budi, dimensi dan tata letak planter box perlu disesuaikan kembali dengan mempertimbangkan pembagian lajur lalu lintas, keamanan, keselamatan, serta ketertiban umum agar tidak menimbulkan titik buta bagi pengemudi maupun pesepeda.
Aspek krusial lainnya adalah standarisasi lebar jalur. Budi menegaskan bahwa lebar jalur sepeda yang sudah terbangun akan diseragamkan sesuai mekanisme pembagian lajur lalu lintas yang berkeadilan. Pemeliharaan permukaan jalur pun menjadi prioritas, termasuk perbaikan lubang (manhole) yang membahayakan pengguna roda dua. "Pemeliharaan, perawatan, dan perbaikan jalur sepeda serta manhole yang berada pada jalur sepeda untuk mendukung keselamatan dan kenyamanan pesepeda," ungkap Budi, menekankan bahwa infrastruktur harus layak pakai secara konsisten.
Respons positif datang dari komunitas pesepeda, khususnya Bike To Work (B2W) Indonesia. Ketua Umum B2W Hendro Subroto mengapresiasi keputusan Pemprov DKI mempertahankan eksistensi jalur sepeda sebagai bagian integral transportasi kota. Namun, ia memberikan catatan kritis terkait metode penetapan lebar jalur. Hendro mengusulkan adanya uji coba berbasis data lapangan daripada sekadar penyeragaman aturan baku. "Lebih baik sekira ada uji coba dengan melihat kondisi nyata lingkungan jalan itu sendiri, tingkat kepadatan lalu lintas untuk memastikan sisi keselamatan pesepeda," ujar Hendro kepada CNNIndonesia.com, Rabu sore kemarin.
Analisis Redaksi
Perubahan dari stick cone ke paku marka jalan menunjukkan pergeseran paradigma pemerintah dari solusi sementara menuju infrastruktur permanen yang lebih terintegrasi. Secara teknis, paku marka menawarkan stabilitas visual dan psikologis bagi pengemudi mobil untuk menghormati batas lajur, namun tantangannya terletak pada eksekusi pemeliharaan jangka panjang. Jika gagal menjaga konsistensi kualitas permukaan aspal dan kebersihan marka, kebijakan ini justru bisa menciptakan risiko baru berupa kecelakaan akibat licinnya cat atau kerusakan ban motor biasa yang melintas di area tersebut.
Kritik B2W mengenai pentingnya uji coba proporsional menyentuh inti masalah perencanaan kota Jakarta yang sering kali bersifat top-down tanpa mengakomodasi dinamika mikro lokasi. Seragamisasi lebar jalur mungkin terlihat adil di atas kertas, tetapi mengabaikan variasi volume kendaraan dan geometri jalan di setiap segmen. Pemerintah perlu segera membentuk tim pantau independen yang melibatkan unsur komunitas untuk mengevaluasi dampak langsung dari perubahan ini, terutama dalam mencegah insiden fatal akibat celah manhole atau tepi jalan yang tajam.