Elektabilitas PSI 2,3 Persen, Bestari Barus: Kami Tetap Optimis

Politik
Siti RahmawatiSiti Rahmawati
Sumber: CNN Nasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Elektabilitas PSI 2,3 Persen, Bestari Barus: Kami Tetap Optimis
BAGIKAN:

Ketua DPP Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Bestari Barus, merespons dingin hasil survei Poltracking Indonesia yang menempatkan elektabilitas partainya di angka 2,3 persen. Bagi Bestari, capaian tersebut bukanlah vonis mati politik, melainkan sebuah informasi biasa yang kerap menghantui banyak partai besar maupun kecil dalam dinamika demokrasi nasional.

Ia menegaskan bahwa rendahnya angka dukungan publik merupakan hal lumrah bagi sejumlah kekuatan politik. Sejarah mencatat beberapa partai parlemen pun pernah mengalami fase serupa pada masa lalu sebelum akhirnya bangkit atau bertahan dengan strategi tertentu. "Ya 2,3 persen banyak dialami oleh bahkan partai-partai parlemen pada masa-masa yang lalu itu ya kan, sehingga ini sebagai informasi lah ya bagi kami," ujar Bestari saat dihubungi pada Rabu (23/9).

Pendapat Bestari diperkuat oleh pengamatannya terhadap pola komunikasi internal partai bersama Dewan Pembina PSI sekaligus mantan Presiden RI, Joko Widodo. Ia mengungkapkan bahwa Jokowi sering menerima pembaruan data dari berbagai lembaga survei dengan hasil yang bervariasi. Hal ini menunjukkan adanya disparitas metodologi antar-lembaga yang perlu disikapi secara proporsional tanpa panik berlebihan.

"Walaupun sebetulnya dari beberapa pertemuan saya dengan Pak Jokowi, Pak Jokowi itu mendapat update dari banyak survei dan hasilnya memang macam-macam," jelasnya. Menurut Bestari, perbedaan metode kerja antara satu lembaga survei dengan lainnya menjadi faktor utama munculnya variasi angka. Oleh karena itu, PSI memilih menjadikan data eksternal tersebut sekadar masukan, bukan penentu mutlak arah perjuangan partai.

Sementara itu, data konkret dari Poltracking Indonesia periode 14-20 Agustus memberikan gambaran peta persaingan yang ketat. Survei berbasis wawancara tatap muka dengan 1.220 responden di 38 provinsi ini mencatat Partai Gerindra memimpin jauh dengan elektabilitas sekitar 23,2 persen. Posisi kedua ditempati PDI-P dengan perolehan 11,6 persen, diikuti PKB (6,2 persen) dan Partai Demokrat (6,1 persen) yang bersaing ketat di kisaran enam persen.

Di bawah mereka, Partai NasDem meraih 4,4 persen, disusul PAN sebesar 3,4 persen dan PKS di angka 3,3 persen. Sementara itu, PSI berada di posisi terbawah bersama PPP yang tercatat memiliki elektabilitas 1,9 persen. Meski demikian, ketika ditanya mengenai prospek kenaikan angka dukungan di masa depan, Bestari menjawab tegas bahwa partainya tetap memegang teguh keyakinan tersebut. "Kalau ditanya tentang optimisme, sampai hari ini kami optimis," tutupnya.

Analisis Redaksi

Deklarasi optimisme Bestari Barus di tengah realitas elektoral yang suram mencerminkan strategi pertahanan psikologis partai baru yang belum mengakar kuat di struktur sosial-budaya tradisional. Angka 2,3 persen sebenarnya menjadi alarm keras bahwa narasi perubahan yang selama ini dijual PSI belum mampu menembus tembok loyalitas pemilih konvensional yang masih didominasi Gerindra dan PDI-P. Tanpa konsolidasi kaderisasi di tingkat akar rumput yang masif, klaim optimisme hanya akan terdengar seperti retorika kosong menjelang pemilu berikutnya.

Masyarakat perlu waspada terhadap potensi manipulasi persepsi melalui selektivitas sumber data. Jika PSI terus mengandalkan argumen "metode survei berbeda" untuk menepis kritik kinerja, partai ini berisiko kehilangan kredibilitas publik. Langkah logis ke depan seharusnya bukan lagi membela diri atas angka rendah, tetapi membuktikan efektivitas program nyata yang dapat menaikkan elektabilitas secara organik, bukan sekadar membandingkan dengan kegagalan partai lain di masa lalu.

Meow! Tanya Nesi!
😸