Rektor Baru UINSA Surabaya Tumbang Setahun? Muzakki Dicopot Menag Usai Demo Mahasiswa, Plt Ditetapkan
Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Menyusul gelombang demonstrasi mahasiswa yang berujung pada penyegelan kampus, Menteri Agama Nasaruddin Umar resmi memberhentikan Akh Muzakki dari jabatannya sebagai Rektor Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya. Keputusan tegas ini tertuang dalam Keputusan Menteri Agama (KMA) Nomor 060729/MA.KP.07/09/2026, terbit pada 23 September 2026, sebagai respons langsung terhadap surat pengunduran diri Muzakki. Ironisnya, pria yang baru dilantik untuk periode kepemimpinannya kedua pada 15 September 2026 itu memutuskan mundur hanya sepekan setelah sumpah jabatannya.
Kepala Biro SDM Setjen Kemenag, Muhammad Zain, menjelaskan bahwa KMA pemberhentian tersebut diterbitkan menyusul surat pernyataan pengunduran diri yang disampaikan oleh Muzakki pada 22 September 2026. "Melalui KMA yang terbit pada 23 September 2026 ini, Menag memberhentikan Prof Muzakki dengan hormat dan ucapan terima kasih atas jasa-jasanya selama ini," terang Zain. Untuk menjaga stabilitas operasional kampus dan menghindari kekosongan kursi pimpinan, Menag langsung menunjuk Direktur Jenderal Pendidikan Islam Amien Suyitno sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Rektor. Suyitno akan mengemban tugas sementara tersebut hingga rektor definitif baru dilantik dalam waktu yang secepatnya.
Dari lingkaran internal kampus, kabar mundurnya Muzakki turut dikonfirmasi oleh Guru Besar UINSA bidang Sejarah Pemikiran Islam Klasik, Prof KH Imam Ghazali Said. Ia memastikan bahwa dokumen pengunduran diri tersebut telah diterima oleh Kementerian Agama. "Iya benar [Muzakki sudah mengirimkan surat pengunduran diri ke Kemenag]. Surat dikirimkan kemarin jam 22.00 WIB dan pagi tadi suratnya sudah sampai di Kemenag," kata Prof Imam saat dikonfirmasi pada Rabu, 23 September 2026. Konfirmasi ini menegaskan bahwa proses administratif di tingkat pusat sudah berjalan paralel dengan eskalasi protes di lapangan.
Proses pergantian kepemimpinan di level pusat ternyata belum cukup untuk meredakan suhu politik di dalam kampus. Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) UINSA menyatakan belum mencabut segel kampus dan tetap memboikot aktivitas akademik. Wakil Presiden DEMA UINSA, Fadlurrakhman Fazle Purwardana, menegaskan bahwa kepercayaan mahasiswa baru bisa dibangun setelah melihat bukti normatif dari pengunduran diri sang rektor, bukan sekadar pemberitaan media atau pernyataan lisan pejabat.
"Jika memang benar rektor telah memutuskan untuk mengundurkan diri, yang kami inginkan adalah bukti normatif bahwa beliau telah mengundurkan diri. Bukan melalui berita, bukan melalui pernyataan atau omongan," tegas Fadlurrakhman di Kampus 1 UINSA Surabaya. Sikap ini menunjukkan adanya defisit kepercayaan yang dalam antara gerakan mahasiswa dan institusi rektoral lama, di mana legitimasi administratif saja dianggap tidak memadai tanpa transparansi penuh dari proses pengunduran diri itu sendiri.
Analisis Redaksi
Proses cepat dari KMA ini mengindikasikan adanya tekanan institusional yang signifikan terhadap Menag untuk segera menuntaskan konflik di UINSA Surabaya. Penunjukan Amien Suyitno, seorang pejabat setingkat Dirjen, sebagai Plt Rektor adalah langkah strategis untuk meminimalisasi disrupsi akademik lebih lanjut. Namun, kecepatan birokrasi ini tidak serta merta menguap; kepercayaan publik, khususnya mahasiswa, tetap menjadi variabel utama yang belum terurai.
Bagi publik dan civitas akademika, kasus ini menjadi ujian nyata bagi integritas sistem pergantian pimpinan perguruan tinggi negara. Apa yang perlu diwaspadai kini adalah potensi stagnasi jika Plt Rektor gagal menjembatani tuntutan administratif mahasiswa dan kebutuhan operasional kampus. Langkah logis selanjutnya adalah transparansi penuh terkait alasan pengunduran diri Muzakki dan timeline jelas untuk seleksi rektor definitif, agar segel kampus dapat segera dibuka dan kekosongan kepemimpinan definitif tidak berlarut-larut.