TNI Turun Tangan Kawal Ekstrakurikuler Bela Negara di Sekolah, Kemhan Klarifikasi Bukan Militerisme

Politik
Siti RahmawatiSiti Rahmawati
Sumber: CNN Nasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

TNI Turun Tangan Kawal Ekstrakurikuler Bela Negara di Sekolah, Kemhan Klarifikasi Bukan Militerisme
BAGIKAN:

Kementerian Pertahanan resmi melibatkan struktur komando TNI dari tingkat Kodam hingga Koramil untuk mengawal pelaksanaan ekstrakurikuler Korps Kadet Republik Indonesia (KKRI) di sekolah-sekolah. Langkah strategis ini diumumkan oleh Kepala Biro Informasi Pertahanan Setjen Kemhan, Brigjen Rico Ricardo Sirait, sebagai bagian dari fasilitasi program yang telah ditetapkan melalui Keputusan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 136 Tahun 2026. Pelibatan ini bukan untuk membina prajurit baru, melainkan penguatan karakter melalui sinergi antara pendidikan karakter di sekolah dan wawasan kebangsaan.

Rico menjelaskan bahwa peran Kemhan difasilitasi lewat pembentukan Sekretariat KKRI di tingkat pusat hingga kabupaten/kota berdasarkan Kepmenhan Nomor 713 Tahun 2026. Konsepnya adaptif: metode luring menggunakan guru pendamping yang bersinergi dengan perangkat TNI (Kodam, Korem, Kodim, Koramil), sementara metode daring memanfaatkan platform kkri.id. Di platform tersebut, siswa SMA/SMK/MA dapat mengakses 45 video pembelajaran dalam 8 kelas, mulai dari Modul Bela Negara hingga Civic Engagement, lengkap dengan kuis interaktif dan sertifikat digital.

Fasilitas platform tidak hanya sebatas materi akademik. Sistem juga menyediakan Tes Minat dan Bakat berbasis teori 16PF serta Tes Kognitif/IQ gratis, hasil kerja sama dengan Pusat Psikologi TNI. Sertifikat dari kuis ini dapat digunakan sebagai pendukung prestasi non-akademik siswa. Rico menegaskan seluruh proses ini dirancang agar relevan dengan generasi muda dan mudah diakses melalui akun Google.

Persoalan potensi militerisme yang sering mengiringi keterlibatan TNI di sekolah langsung dijawab oleh Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Atip Latipulhayat. Ia menekankan bahwa keikutsertaan dalam KKRI tidak menyematkan status prajurit pada siswa, melainkan bagian dari penguatan karakter. "Kehadiran ekstrakurikuler KKRI ini menurut saya sangat tepat, dan tidak wajib," tegas Atip saat peluncuran program. Ia menilai penyelenggaraan program ini justru memenuhi hak murid dalam menerima pembinaan kesadaran bela negara.

Kolaborasi lintas kementerian ini diharapkan menjadi sarana pembinaan yang positif dan bermanfaat nyata bagi masa depan generasi muda. Dengan pendekatan yang sukarela dan berbasis teknologi, program ini mengubah persepsi tentang peran TNI di lingkungan sekolah. Dari yang sebelumnya dianggap rigid, kini hadir sebagai fasilitator pengembangan potensi siswa melalui aspek psikologi dan leadership. Dampaknya, siswa mendapat akses terhadap penilaian bakat dan kepribadian tanpa biaya, sebuah langkah maju dalam integrasi pendidikan bela negara di era digital.

Analisis Redaksi

Lembaga redaksi melihat pelibatan struktur komando militer hingga level Koramil sebagai mekanisme distribusi yang efektif namun sensitif. Kehadiran Koramil di lingkup sekolah menuntut standarisasi etika interaksi yang ketat antara personel TNI dan lingkungan pendidikan. Jika tidak diawasi ketat secara administratif, potensi gesekan antara disiplin militer dan kebebasan akademik bisa muncul. Kunci sukses program ini terletak pada apakah peran TNI murni sebagai fasilitator karakter atau bergeser menjadi pengawas ideologis.

Sisi positifnya sangat signifikan: akses gratis terhadap Tes IQ dan 16PF (profil kepribadian ilmiah) sebelumnya merupakan komoditas premium di pasar psikologi swasta. Dengan membuka ini via Pusat Psikologi TNI, negara menurunkan sekat eksklusivitas data psikologis untuk siswa SMA. Langkah ini cerdas secara strategis, menjadikan bela negara tidak lagi narasi abstrak tentang patriotisme, melainkan terukur melalui data kepribadian dan kognitif. Ini adalah evolusi kebijakan pendidikan kewarganegaraan yang patut diapresiasi, asalkan independensi data psikologis tetap terjaga dari kepentingan rekrutmen militer dini.

Meow! Tanya Nesi!
😸