Amri/Nita Targetkan Emas Asian Games 2026, Balas Kekalahan Semifinal dari Feng/Huang
Ahli dalam liputan bulu tangkis dan berbagai event olahraga internasional.

Amri Syahnawi/Nita Violina Marwah bertekad membalas kekalahan atas Feng Yanzhe/Huang Dongping di semifinal Asian Games 2026 untuk menjaga peluang meraih medali emas. Ganda putra Indonesia ini baru saja memastikan tiket ke babak semifinal setelah lolos dari fase sebelumnya dengan raihan medali yang sudah dijamin.
Perjalanan menuju puncak kini bergantung sepenuhnya pada hasil pertandingan melawan wakil China tersebut. Amri/Nita menghadapi tantangan berat karena rekor pertemuan mereka tidak pernah menguntungkan. Dalam lima duel terakhir, pasangan Indonesia ini tidak pernah mencatatkan kemenangan tunggal atas Feng/Huang.
Kendala utama berakar dari trauma kekalahan di semifinal Kejuaraan Dunia 2026 yang berakhir dramatis. Saat itu, laga berlangsung ketat dan Amri/Nita harus mengakui keunggulan lawan dengan skor tipis 22-20, 14-21, 20-22. Kekalahan tipis itulah yang membuyarkan mimpi mereka untuk melaju ke babak final Kejuaraan Dunia.
Amri menyadari urgensi persiapan ekstra menghadapi rematch ini. “Kami harus lebih siap dengan pola-pola mereka dan startnya jangan ketinggalan,” kata Amri dalam rilis PBSI. Pasangan ini juga menyoroti bahwa dua kali dari lima pertemuan tersebut berhasil memaksakan rubber game, menunjukkan potensi kompetitif yang harus mereka maksimalkan.
“Besok kami akan rematch semifinal Kejuaraan Dunia melawan Feng/Huang. Pastinya kami menantikan partai ini, semoga kali ini kami bisa dapat hasil yang lebih baik,” tambah Amri. Kemenangan di laga ini bukan sekadar balas dendam, tetapi kunci mutlak untuk menembus final dan mempertahankan asa juara Asian Games 2026.
Analisis Redaksi
Kecenderungan skor yang sangat ketat di dua gim pembuka dan penutup pada pertemuan terakhir menunjukkan bahwa faktor mentalitas dan konsistensi di poin-poin krusial akan menjadi pembeda. Fakta bahwa Amri/Nita mampu memaksakan rubber game dalam dua dari lima pertemuan mengindikasikan bahwa mereka memiliki kedalaman taktis, namun eksekusi di poin-poin penentuan masih menjadi titik lemah yang perlu diperbaiki segera.
Lawan yang sama dalam dua turnamen besar beruntun menciptakan dinamika psikologis unik. Di satu sisi, Amri/Nita telah memahami pola serangan Feng/Huang secara mendalam, namun di sisi lain, tekanan untuk membalas dendam bisa menjadi beban tersendiri. Keberhasilan mereka akan sangat bergantung pada kemampuan memulihkan kepercayaan diri pasca-kalah tipis di Kejuaraan Dunia, sekaligus mengeksekusi strategi ‘start jangan ketinggalan’ yang sudah diumumkan terbuka.
Bila berhasil menaklukkan Feng/Huang, Amri/Nita tidak hanya mengukir sejarah dengan kemenangan pertama atas pasangan China tersebut dalam konteks laga perebutan gelar, tetapi juga membuktikan bahwa mereka siap bersaing di level tertinggi Asia. Kekalahan di final setelahnya pun akan tetap lebih bermakna daripada tersingkir di semifinal, mengingat medali perunggu atau perak tetaplah pencapaian yang signifikan dalam kancah internasional.