FSB Rusia Minta Interpol Tangkap Pendiri Telegram: Durov Dituduh Bantu Terorisme
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Ringkasan Singkat
- FSB mengeluarkan surat perintah penangkapan internasional terhadap Pavel Durov melalui Interpol.
- Tuduhan: Telegram tidak menghapus materi yang, menurut Rusia, dipakai oleh intelijen Ukraina dan kelompok teroris untuk aksi sabotase di wilayah Rusia.
- Durov belum memberi komentar; perseteruan antara Moskow dan platform enkripsi ini kembali memanas.
Departemen Keamanan Federal Rusia (FSB) pada Rabu (29/7) mengirimkan surat perintah penangkapan internasional kepada Interpol yang menargetkan Pavel Durov, pendiri dan kepala administrasi Telegram. FSB menuduh Durov memfasilitasi aktivitas terorisme karena platformnya tidak menghapus konten yang, menurut pihak berwenang, âdigunakan oleh badan intelijen khusus Ukraina serta organisasi teroris dan ekstremis untuk mempersiapkan dan mengoordinasikan aksi sabotase, terorisme, pembunuhan massal, dan operasi penipuan siber di wilayah Federasi Rusia.â
Pengumuman tersebut diikuti oleh unggahan akun resmi Telegram di X yang menampilkan foto Durov dengan gestur mengacungkan jari tengah, menandakan penolakan tegas terhadap tuduhan tersebut. Hingga kini, tidak ada pernyataan resmi dari Durov atau perwakilan Telegram mengenai kasus ini.
Durov, yang lahir di Rusia namun kini memegang kewarganegaraan Prancis dan Uni Emirat Arab, telah lama berada di luar negeri dan sering berseteru dengan otoritas Moskow. Sejak pemerintah Rusia memperketat kontrol internet, Durov dan Telegram menjadi sasaran regulasi yang intens, termasuk upaya pemblokiran dan tekanan untuk menyerahkan data pengguna.
Telegram, yang diluncurkan pada 2013, kini melayani lebih dari satu miliar pengguna di seluruh dunia, termasuk warga Rusia dan Ukraina yang mengandalkannya selama konflik yang berlangsung sejak 2022. Platform enkripsi ini menjadi salah satu sarana komunikasi utama, sekaligus menjadi titik fokus kebijakan siber Rusia yang berupaya menggantikan layanan asing dengan alternatif domestik yang tidak menggunakan enkripsi endâtoâend.
Analisis Pakar
Langkah FSB ini menandai eskalasi terbaru dalam perang informasi antara Rusia dan penyedia layanan digital yang menolak tunduk pada kontrol negara. Dari perspektif keamanan internasional, permintaan penangkapan melalui Interpol menambah dimensi hukum lintas batas yang dapat memicu ketegangan diplomatik, terutama mengingat Durov memiliki kewarganegaraan ganda dan beroperasi di yurisdiksi yang tidak bersahabat dengan Moskow.
Secara teknis, tuduhan bahwa Telegram âgagal menghapus materiâ menimbulkan pertanyaan tentang tanggung jawab platform dalam memoderasi konten yang bersifat militer atau teroristik. Di satu sisi, enkripsi kuat yang menjadi keunggulan Telegram juga membatasi kemampuan pihak berwenang untuk mengakses data secara realâtime. Di sisi lain, kebijakan âtidak menyensorâ dapat dimanfaatkan oleh aktor nonânegara untuk menyebarkan propaganda atau mengoordinasikan aksi kekerasan, menempatkan perusahaan teknologi pada posisi dilematis antara kebebasan berekspresi dan keamanan publik.
Politik dalam negeri Rusia memperlihatkan pola konsisten: memperketat kontrol atas ruang digital untuk memperkuat kedaulatan informasi. Upaya memaksa pengguna beralih ke aplikasi domestik yang tidak mengenkripsi data mencerminkan strategi âdigital sovereigntyâ yang sedang diadopsi oleh banyak rezim otoriter. Namun, kebijakan semacam itu berisiko menurunkan kepercayaan publik terhadap layanan resmi, sekaligus mendorong migrasi ke platform luar negeri yang lebih aman.
Jika Interpol mengeluarkan red notice terhadap Durov, implikasinya tidak hanya bersifat hukum, melainkan juga simbolik. Hal ini dapat memperparah persepsi bahwa Rusia menggunakan instrumen hukum internasional untuk menekan kritikus teknologi, sekaligus menambah beban pada hubungan Rusia dengan negaraânegara Barat yang mendukung kebebasan internet. Bagi Telegram, tantangan terbesar adalah menyeimbangkan komitmen terhadap privasi pengguna dengan tekanan politik yang semakin intens, tanpa mengorbankan basis pengguna globalnya.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Apa itu red notice Interpol?
A: Red notice adalah permintaan internasional untuk penangkapan seseorang yang dicari karena dugaan pelanggaran hukum, yang disebarkan ke seluruh negara anggota Interpol. - Q: Mengapa Rusia menuduh Telegram memfasilitasi terorisme?
A: Pemerintah Rusia mengklaim bahwa konten yang tidak dihapus di platform tersebut digunakan oleh intelijen Ukraina serta kelompok teroris untuk merencanakan sabotase dan serangan siber di wilayah Rusia. - Q: Apa dampak potensial bagi pengguna Telegram di Rusia?
A: Pengguna dapat menghadapi pemblokiran akses, peningkatan pengawasan, atau dorongan untuk beralih ke aplikasi pesan domestik yang tidak menyediakan enkripsi endâtoâend.


