WHO Ungkap Strategi Litigasi Raksasa Makanan: Menghambat Kebijakan Anti‑Obesitas Global
Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Ringkasan Singkat
- WHO menuduh perusahaan makanan ultraproses mengajukan 235 gugatan hukum sejak 2010 untuk menunda regulasi anti‑obesitas.
- Meski 75% kasus dimenangkan pemerintah, proses litigasi menunda kebijakan hingga rata‑rata 2,5 tahun per kasus, menelan biaya kesehatan dan hukum miliaran dolar.
- Delapan perusahaan multinasional, termasuk Coca‑Cola dan PepsiCo, menjadi penggugat utama, mengancam upaya negara berpendapatan rendah‑menengah dalam menangani krisis obesitas.
Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menegaskan bahwa taktik litigasi industri makanan ultraproses bukan sekadar upaya memenangkan pengadilan, melainkan strategi menunda regulasi yang dapat menurunkan tingkat obesitas global. Pada 2024, hampir satu miliar orang di dunia hidup dengan obesitas, menambah beban pada sistem kesehatan dan produktivitas tenaga kerja.
Data WHO menunjukkan bahwa makanan ultraproses kini menyumbang sekitar 50% asupan kalori di negara‑negara maju seperti Inggris, Amerika Serikat, dan Australia. Pemerintah yang mencoba mengendalikan konsumsi produk ini – lewat label peringatan depan, pembatasan iklan, atau pajak junk food – justru dihadapkan pada gelombang gugatan hukum. Antara 2010‑2025, tercatat 235 kasus di Meksiko, Kolombia, Brasil, Amerika Serikat, dan Inggris. Sekitar tiga perempat gugatan dimenangkan pemerintah, namun proses hukum yang panjang menunda implementasi kebijakan selama bertahun‑tahun.
Litigasi ini menimbulkan beban fiskal yang signifikan. WHO memperkirakan biaya hukum dan kesehatan yang ditimbulkan oleh penundaan regulasi mencapai miliaran dolar per negara. Lebih jauh, efek jera (chilling effect) membuat negara‑negara lain enggan mengusulkan kebijakan serupa, memperlemah upaya global melawan epidemi obesitas.
Penelitian lintas‑negara yang melibatkan Robert and Ethel Kennedy Human Rights Centre, University of Sydney, University of São Paulo, dan University of Caldas menyoroti bahwa kebijakan paling sering digugat adalah pelabelan produk, diikuti pajak makanan tidak sehat dan pembatasan pemasaran. Delapan perusahaan induk – Coca‑Cola, PepsiCo, Mondelēz, Kellogg's, Danone, Ferrero, Xignux, dan Heartland Food Products Group – bertanggung jawab atas 38% dari semua gugatan yang teridentifikasi.
Analisis Pakar
Sebagai ekonom makro, saya melihat pola litigasi ini sebagai ekstensi dari “regulatory capture” yang semakin canggih. Ketika industri mengalihkan biaya sosial (externalities) ke publik, mereka mengganti strategi pemasaran dengan strategi hukum. Dampaknya tidak hanya pada kesehatan masyarakat, tetapi juga pada neraca fiskal negara. Penundaan kebijakan anti‑obesitas menambah beban pada sistem kesehatan, meningkatkan klaim asuransi, dan menurunkan produktivitas tenaga kerja akibat penyakit tidak menular.
Lebih jauh, kebijakan pajak dan label yang ditunda mengurangi potensi pendapatan negara. Pajak junk food, bila diterapkan secara konsisten, dapat menyumbang hingga 1‑2% PDB di negara‑negara dengan tingkat konsumsi tinggi. Dengan menunda atau melemahkan kebijakan tersebut, pemerintah kehilangan sumber pendapatan yang dapat dialokasikan untuk program kesehatan preventif atau subsidi gizi.
Dari perspektif pasar, tekanan litigasi menciptakan ketidakpastian investasi. Perusahaan makanan ultraproses yang beroperasi di banyak yurisdiksi harus menyiapkan dana litigasi yang signifikan, mengalihkan modal dari inovasi produk yang lebih sehat. Akibatnya, laju pengembangan alternatif nutrisi yang lebih baik melambat, memperpanjang ketergantungan konsumen pada produk tinggi gula, garam, dan lemak.
Solusi jangka panjang memerlukan koordinasi multilateral. WHO dapat memfasilitasi standar regulasi yang harmonis, mengurangi ruang gerak perusahaan untuk “forum shopping” – mengajukan gugatan di pengadilan yang paling menguntungkan. Selain itu, pemerintah harus memperkuat kapasitas hukum domestik, misalnya dengan dana khusus untuk membiayai pertahanan kebijakan publik, sehingga beban litigasi tidak menggerogoti anggaran kesehatan.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Mengapa perusahaan makanan ultraproses menggugat kebijakan kesehatan?
A: Mereka berupaya melindungi margin keuntungan dengan menunda regulasi yang dapat mengurangi penjualan produk tinggi gula, garam, dan lemak. - Q: Apa dampak ekonomi dari penundaan kebijakan anti‑obesitas?
A: Penundaan meningkatkan biaya perawatan kesehatan, menurunkan produktivitas tenaga kerja, dan menghilangkan potensi pendapatan pajak dari produk tidak sehat. - Q: Bagaimana negara‑negara dapat melawan taktik litigasi ini?
A: Dengan membentuk dana pertahanan kebijakan publik, mengadopsi standar regulasi regional, dan memperkuat kerjasama internasional melalui WHO.


