Investasi Thailand di Indonesia Dijamin Aman: Target Perdagangan US$20 Miliar Siap Tercapai!

Ekonomi & Pasar
Siti AmaliaSiti Amalia
Siti Amalia
Siti Amalia
Analis Finansial

Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Investasi Thailand di Indonesia Dijamin Aman: Target Perdagangan US$20 Miliar Siap Tercapai!
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Indonesia‑Thailand menargetkan nilai perdagangan bilateral mencapai US$ 20 miliar dalam waktu dekat.
  • Hashim S. Djojohadikusumo menegaskan keamanan investasi Thailand di RI, mengingat sejarah krisis Asia 1997 yang berhasil diatasi bersama.
  • Pemerintah Indonesia berkomitmen pada kepastian usaha dan kebijakan luar negeri yang "bebas dan aktif" untuk menarik investor global.

Dalam Indonesia-Thailand Business Forum yang digelar di Hotel Fairmont Jakarta, Hashim S. Djojohadikusumo, Ketua Dewan Penasihat Kadin Indonesia, menegaskan bahwa kedua negara memiliki kesamaan struktural yang dapat dijadikan landasan kuat bagi kerja sama ekonomi. Ia mencatat, "Kita akan segera mencapai target bersama sebesar US$ 20 miliar perdagangan, bahkan melampauinya jika sinergi terus ditingkatkan."

Hashim mengingat kembali krisis ekonomi Asia 1997, ketika Indonesia dan Thailand sama-sama terpuruk. "Perusahaan-perusahaan seperti Bangkok Bank, Permata, Banpu, dan Charoen Pokphand menunjukkan ketangguhan luar biasa," ujarnya. Pengalaman itu, katanya, menjadi modal mental bagi pelaku bisnis untuk menghadapi gejolak energi global, termasuk penutupan Selat Hormuz yang sempat memicu lonjakan harga komoditas.

Menjawab pertanyaan tentang iklim investasi, Hashim menegaskan bahwa Indonesia tetap menjadi tujuan utama karena kebijakan luar negeri yang bebas dan aktif. "Kami menyambut perusahaan dari Rusia, Tiongkok, Amerika, Eropa, Jepang, Australia, dan semua negara lain," katanya, menekankan bahwa investasi Thailand berada dalam zona aman.

Ia menambahkan, Pemerintah Indonesia berkomitmen menjaga kepastian usaha dan keamanan investasi di semua sektor—dari ekstraktif, manufaktur, barang konsumsi, hingga perbankan dan jasa keuangan. "Investasi Anda aman dan akan selamanya aman di Indonesia," pungkasnya.

Analisis Pakar

Sebagai ekonom makro, saya melihat dua dimensi utama dalam pernyataan Hashim. Pertama, target US$ 20 miliar bukan sekadar angka simbolik; ia mencerminkan ambisi Indonesia untuk memperluas basis ekspor ke pasar ASEAN yang semakin kompetitif. Jika dipandang dari data UNCTAD 2025, nilai perdagangan Indonesia‑Thailand masih berada di bawah 60 % dari potensi maksimal yang diperkirakan berdasarkan GDP gabungan dan kedekatan rantai pasok. Oleh karena itu, pencapaian target ini menuntut bukan hanya tarif yang bersahabat, melainkan juga harmonisasi standar teknis, digitalisasi bea cukai, dan penyederhanaan prosedur perizinan.

Kedua, jaminan keamanan investasi bagi perusahaan Thailand harus dibarengi dengan kebijakan fiskal yang stabil. Pemerintah Indonesia masih mengelola defisit anggaran yang diproyeksikan mencapai 4,5 % dari PDB pada 2026. Jika tidak diimbangi dengan reformasi pajak dan peningkatan efisiensi belanja publik, risiko inflasi dapat menggerogoti margin keuntungan investor asing, terutama di sektor manufaktur yang sensitif terhadap biaya energi.

Selanjutnya, konteks geopolitik—seperti ketegangan di Selat Hormuz—menunjukkan pentingnya diversifikasi sumber energi. Indonesia memiliki peluang untuk memposisikan diri sebagai hub energi terbarukan di kawasan, menawarkan kontrak jangka panjang bagi perusahaan Thailand yang ingin mengurangi eksposur terhadap volatilitas minyak. Kolaborasi dalam proyek green hydrogen atau solar farm di provinsi‑provinsi selatan dapat menjadi katalisator pertumbuhan perdagangan bilateral.

Terakhir, kebijakan luar negeri "bebas dan aktif" memang menarik, namun harus diimbangi dengan kepastian hukum. Investor menuntut perlindungan aset yang kuat, penyelesaian sengketa yang transparan, dan kepastian regulasi lingkungan. Pemerintah perlu memperkuat lembaga arbitrase komersial dan mempercepat implementasi Undang‑Undang Cipta Kerja yang masih menimbulkan keraguan di kalangan investor institusional.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Kapan Indonesia‑Thailand diperkirakan mencapai target perdagangan US$ 20 miliar?
    A: Para pejabat memperkirakan target tersebut dapat tercapai pada akhir 2027, tergantung pada percepatan integrasi rantai pasok.
  • Q: Apa saja sektor yang paling potensial untuk investasi Thailand di Indonesia?
    A: Sektor manufaktur, agribisnis, energi terbarukan, dan layanan keuangan menjadi fokus utama karena sinergi biaya dan pasar.
  • Q: Bagaimana pemerintah Indonesia menjamin keamanan investasi asing?
    A: Melalui kebijakan kepastian usaha, perlindungan hukum yang kuat, serta komitmen pada perjanjian bilateral investasi yang mengikat.
Meow! Tanya Nesi!
😸