Target US$30 Miliar Perdagangan RI‑Thailand 2030: Anindya Bakrie Gencarkan Agenda Karbon, Digital, dan Halal

Ekonomi & Pasar
Siti AmaliaSiti Amalia
Siti Amalia
Siti Amalia
Analis Finansial

Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Target US$30 Miliar Perdagangan RI‑Thailand 2030: Anindya Bakrie Gencarkan Agenda Karbon, Digital, dan Halal
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Target nilai perdagangan Indonesia‑Thailand naik dari US$17,5 miliar kini menjadi US$30 miliar pada 2030.
  • KADIN tandatangani dua MOU dengan Dewan Perdagangan & Dewan Komersial Thailand, termasuk kerja sama strategis di pasar karbon.
  • Kolaborasi meluas ke sektor halal, energi bersih, manufaktur maju, dan ekonomi digital, menyiapkan rantai nilai regional yang lebih tangguh.

Dalam Indonesia‑Thailand Business Forum yang digelar di Hotel Fairmont Jakarta, Anindya Bakrie, Ketua Umum KADIN, menegaskan ambisi perdagangan bilateral mencapai US$30 miliar pada 2030 – hampir dua kali lipat volume saat ini (US$17,5 miliar). Ia menyoroti bahwa kedua negara merupakan ekonomi terbesar di ASEAN, dengan total pasar domestik 357 juta jiwa dan output hampir US$2 triliun.

Kerja sama ini tidak hanya bersifat diplomatik. KADIN dan Dewan Perdagangan serta Dewan Komersial Thailand menandatangani dua Memorandum of Understanding (MOU). Salah satunya memfokuskan pada pengembangan pasar karbon berintegritas tinggi, yang diharapkan menjadi sumber pendanaan bagi proyek‑proyek mitigasi iklim di kedua negara. “Perusahaan global butuh mekanisme kredibel dan terjangkau untuk menyeimbangkan emisi mereka; pasar karbon mengubah kewajiban itu menjadi peluang,” ujar Bakrie.

Selain karbon, kolaborasi mencakup sektor ekonomi halal, jasa, hilirisasi, serta manufaktur canggih. Kedua negara menargetkan sinergi di bidang energi bersih, konektivitas digital, dan ekonomi digital, yang dipandang sebagai pendorong pertumbuhan jangka menengah. Pada level tertinggi, Perdana Menteri Anutin dan Presiden Prabowo Subianto telah meluncurkan Rencana Kemitraan Strategis 2026‑2030, menegaskan komitmen politik yang kuat.

Bakrie menambahkan, potensi ketahanan pangan menjadi arena kompetitif baru. Thailand unggul dalam agrikultur beras melati dan buah tropis, sementara Indonesia menawarkan sumber daya alam melimpah dan keanekaragaman hayati. “Jika skala Indonesia bertemu keahlian Thailand, solusi pangan dan energi dapat melampaui batas negara,” katanya.

Analisis Pakar

Ambisi US$30 miliar bukan sekadar angka aspiratif; ia mencerminkan perubahan struktural dalam rantai nilai ASEAN. Dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksikan mencapai rata‑rata 5‑5,5 % per tahun, dan Thailand yang sedang beralih dari model manufaktur tradisional ke industri berteknologi tinggi, sinergi ini dapat menambah nilai tambah signifikan. Namun, realisasi target memerlukan lebih dari sekadar MOU—diperlukan kebijakan yang menyelaraskan standar regulasi, terutama di bidang karbon dan halal, yang masih terfragmentasi.

Pasar karbon menjadi titik kritis. Indonesia memiliki potensi besar dalam REDD+ dan proyek energi terbarukan, sementara Thailand telah mengembangkan platform perdagangan karbon domestik yang relatif matang. Integrasi kedua pasar dapat menciptakan likuiditas yang cukup untuk menarik investor institusional global, sekaligus menurunkan biaya transaksi bagi perusahaan. Namun, tantangan utama adalah memastikan transparansi, menghindari double‑counting, dan membangun mekanisme verifikasi yang diakui internasional.

Di sisi digital, kolaborasi pada infrastruktur 5G, fintech, dan e‑commerce dapat mempercepat transformasi UMKM kedua negara menjadi pemain regional. Konektivitas logistik—baik laut maupun darat—perlu ditingkatkan, mengingat Indonesia masih bergantung pada pelabuhan tradisional yang rawan bottleneck. Investasi bersama dalam pelabuhan pintar dan hub logistik di Selat Sunda dapat menurunkan biaya transportasi, meningkatkan daya saing produk ekspor melalui prosedur angkutan impor-ekspor yang lebih cepat.

Terakhir, risiko geopolitik dan volatilitas komoditas tetap menjadi penghalang. Ketegangan di Laut China Selatan atau fluktuasi harga energi dapat menggoyang ekspektasi pertumbuhan perdagangan. Oleh karena itu, kedua negara harus memperkuat mekanisme penyelesaian sengketa bilateral dan membangun cadangan strategis bersama, khususnya di sektor pangan dan energi, untuk menambah ketahanan ekonomi regional agar tidak terganggu oleh risiko kekeringan dan dampak energi.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Apa target nilai perdagangan Indonesia‑Thailand pada 2030?
    A: Targetnya adalah US$30 miliar, naik dari US$17,5 miliar saat ini.
  • Q: Sektor apa yang menjadi fokus kerja sama kedua negara?
    A: Pasar karbon, ekonomi halal, energi bersih, manufaktur maju, serta ekonomi digital dan logistik.
  • Q: Mengapa pasar karbon penting bagi Indonesia dan Thailand?
    A: Pasar karbon dapat memobilisasi investasi untuk proyek mitigasi iklim, memberikan sumber pendapatan baru, dan membantu perusahaan memenuhi regulasi emisi secara kredibel.
Meow! Tanya Nesi!
😸