Kredit UMKM Bank BPD Bali Naik 14,52%, Laba Rp945 Miliar
Edukator keuangan milenial dengan pendekatan yang mudah dipahami.

Bank BPD Bali mencatatkan kredit UMKM tumbuh 14,52 persen secara tahunan (y-o-y) menjadi Rp14,15 triliun hingga Agustus 2026. Pertumbuhan itu ditopang penyaluran kredit produktif yang mencapai 62,39 persen dari total portofolio, sejalan dengan upaya bank daerah memperkuat sektor riil di Bali.
Direktur Utama Bank BPD Bali, I Nyoman Sudharma, menyatakan fundamental keuangan perseroan berada pada posisi sehat. “Pencapaian ini tentu tidak lepas dari kepercayaan masyarakat Bali, serta kolaborasi erat bersama seluruh pemegang saham dan pemerintah daerah. Kami berkomitmen untuk terus menjaga likuiditas dan efisiensi, sekaligus memastikan penyaluran kredit produktif bisa tepat sasaran,” ujarnya dikutip Sabtu (12/9/2026).
Kredit produktif dan UMKM jadi mesin utama
Total kredit Bank BPD Bali tumbuh 7,03 persen (y-o-y) menjadi Rp26,20 triliun. Dari jumlah itu, kredit UMKM mencapai Rp14,15 triliun. Kinerja ini memperlihatkan bank tidak hanya mengejar ekspansi, tetapi juga mengarahkan portofolio ke sektor yang menyerap tenaga kerja dan menggerakkan ekonomi daerah.
Program kredit kerakyatan per 26 Agustus 2026 juga terjaga. Kredit Usaha Rakyat (KUR) tersalurkan Rp1,61 triliun, atau 89,26 persen dari target Rp1,80 triliun, kepada 2.378 rekening dengan NPL 0 persen. Penyaluran KUR terbagi ke sektor produksi 70 persen dan non-produksi 30 persen, terdiri dari KUR Kecil Rp1,34 triliun, KUR Mikro Rp269,13 miliar, dan KUR SUMI Rp480 juta.
Selain KUR, Kredit Usaha dan Alat Pertanian (KUA) terealisasi Rp4,65 miliar (56,71 persen dari target), Kredit Industri Padat Karya (KIPK) menargetkan Rp9,51 miliar, dan Kredit Program Perumahan (KPP) Rp176,90 miliar (59 persen dari target) melalui 310 rekening. KPP terdiri dari KPP Supply Rp79,43 miliar dan KPP Demand Rp97,48 miliar.
Modal, likuiditas, dan laba
Hingga Agustus 2026, aset Bank BPD Bali tumbuh 6,05 persen (y-o-y) menjadi Rp44,16 triliun. Modal inti naik 21,08 persen (y-o-y) menjadi Rp6,25 triliun, dengan Capital Adequacy Ratio (CAR) 30,59 persen, di atas ketentuan regulator. Laba perseroan Rp945 miliar, tumbuh 8,14 persen (y-o-y).
Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai Rp36,31 triliun, tumbuh 4,00 persen (y-o-y), didominasi dana murah dengan rasio CASA 66,47 persen. Likuiditas memadai tercermin dari Liquidity Coverage Ratio (LCR) 258,15 persen dan Net Stable Funding Ratio (NSFR) 143,72 persen. Kualitas aset terjaga dengan NPL Gross 1,03 persen dan Loan at Risk (LaR) 3,30 persen.
Produk kredit khusus juga stabil. Baki Debet KUSUMA Rp1,44 triliun dan KUSUMA SARI Rp732,17 miliar. Untuk penyaluran tahun berjalan, Baki Debet KUSUMA Rp415,90 miliar dan KUSUMA SARI Rp520,08 miliar, dengan rata-rata NPL 0 persen. Kredit PMI/PPLN terealisasi Rp375 juta untuk 11 pekerja migran, juga NPL 0 persen.
Bagi pelaku usaha, kombinasi pertumbuhan kredit UMKM dua digit, NPL rendah, dan likuiditas longgar memberi ruang ekspansi tanpa mengorbankan prinsip kehati-hatian. Bank BPD Bali menegaskan akan terus melangkah pruden, menjaga amanah nasabah, dan berkontribusi pada ketahanan ekonomi daerah.


