Pertamina: Harga BBM Nonsubsidi Berpotensi Tembus Rp20 Ribu per Liter

Ekonomi & Pasar
Hendra GunawanHendra Gunawan
Sumber: CNN Ekonomi
Hendra Gunawan
Hendra Gunawan
Pengamat Bisnis

Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Pertamina: Harga BBM Nonsubsidi Berpotensi Tembus Rp20 Ribu per Liter
BAGIKAN:

PT Pertamina Patra Niaga akhirnya buka suara terkait potensi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi seperti Pertamax dan Pertamina Dex yang bisa menembus Rp20 ribu per liter. Direktur Pemasaran Ritel Pertamina Patra Niaga, Eko Ricky Susanto, mengungkapkan bahwa harga BBM nonsubsidi berpotensi berada di kisaran Rp18 ribu hingga Rp20 ribuan per liter jika harga minyak dunia tidak menunjukkan tanda-tanda penurunan.

Pernyataan tersebut disampaikan Eko dalam acara media gathering di Kabupaten Bantul, Yogyakarta, Jumat (11/9). Menurutnya, kondisi pasar energi global saat ini menghadapi tekanan yang lebih berat akibat konflik di Timur Tengah, yang dampaknya bahkan lebih besar dibandingkan ketika perang Rusia-Ukraina pecah.

Salah satu pemicu utama adalah potensi penutupan Selat Hormuz, jalur vital lalu lintas energi dunia. Gangguan di kawasan tersebut secara langsung memengaruhi ketersediaan dan harga minyak mentah global. "Perang di Timur Tengah, di Selat Hormuz ini, ternyata dampaknya secara global selain ketersediaan energi di dunia, itu juga harga yang saat ini belum stabil," ujar Eko.

Harga minyak dunia sendiri telah kembali menembus level US$100 per barel. Mengutip Reuters, harga minyak Brent pada Jumat (11/9) naik 1 persen menjadi US$108,68 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) naik 1 persen ke US$103,45 per barel. Secara mingguan, kedua harga acuan tersebut melonjak hampir 13 persen, kenaikan tertinggi sejak pekan yang berakhir 17 Juli.

Eko berharap harga minyak dunia bisa kembali turun ke kisaran US$60-US$70 per barel seperti sebelum krisis geopolitik. Namun, ia mengakui kondisi tersebut sangat bergantung pada perkembangan situasi global. "Kalau berharap turun US$70 per barel atau US$60 per barel sebelum terjadinya krisis geopolitik, ya kita doakan mungkin semoga itu bisa terjadi dalam waktu segera karena kalau tidak kondisi ini akan berdampak seperti sekarang," tuturnya.

Bagi pelaku bisnis dan konsumen, kenaikan harga BBM nonsubsidi ini akan berdampak langsung pada biaya operasional dan inflasi. Perusahaan yang bergantung pada transportasi dan logistik perlu mengantisipasi lonjakan biaya energi, sementara konsumen harus bersiap menghadapi potensi kenaikan harga barang dan jasa.

Meow! Tanya Nesi!
😸