Laporan Pentagon Ungkap AS Kekurangan Amunisi dan Kehilangan Jet F-35 dalam Konflik Kontra-Iran

Dunia
Budi SantosoBudi Santoso
Sumber: CNN Internasional
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Laporan Pentagon Ungkap AS Kekurangan Amunisi dan Kehilangan Jet F-35 dalam Konflik Kontra-Iran
BAGIKAN:

Laporan terbaru dari Inspektur Jenderal Departemen Pertahanan Amerika Serikat mengungkapkan bahwa militer AS menghadapi kelangkaan amunisi strategis serta kehilangan sejumlah jet tempur canggih F-35 akibat tingginya intensitas konflik bersenjata melawan Iran sepanjang akhir Februari hingga Juni lalu. Dokumen wajib pertama yang diserahkan kepada Kongres ini membeberkan bahwa Operasi Epic Fury (OEF) telah menguras anggaran pertahanan hingga US$33,4 miliar (sekitar Rp590 triliun), dengan porsi terbesar dialokasikan khusus untuk konsumsi amunisi.

Dampak Finansial dan Kerugian Alutsista dalam Operasi Epic Fury

Menurut laporan resmi tersebut, pengeluaran untuk amunisi saja mencapai US$22,3 miliar atau setara Rp394 triliun. Tingginya laju penggunaan senjata ini memicu hambatan serius pada basis industri pertahanan AS yang kesulitan melakukan pasokan ulang dengan cepat. Hambatan rantai pasok ini memicu kekhawatiran mendalam mengenai kesiapan inventaris strategis Pentagon dalam jangka panjang.

Selain krisis logistik amunisi, kekuatan udara AS juga mengalami pukulan telak. Laporan militer mengonfirmasi hancurnya empat unit jet tempur siluman F-35 dan kerusakan pada satu unit lainnya. Kerugian juga mencakup kerusakan tujuh pesawat tanker KC-135 serta hancurnya 30 unit pesawat nirawak (drone) MQ-9 Reaper yang selama ini menjadi tulang punggung pengawasan udara di kawasan tersebut.

Divergensi Pernyataan Politik dan Realitas Logistik Militer

Di tengah rilis data krusial ini, ketegangan politik domestik mencuat seiring perbedaan narasi antara militer dan eksekutif. Presiden AS Donald Trump berulang kali menepis kekhawatiran terkait menipisnya cadangan senjata nasional. Melalui platform media sosial miliknya, Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat memproduksi persenjataan yang jauh lebih canggih daripada masa-masa sebelumnya dalam sejarah dan mengklaim memiliki persediaan yang tidak terbatas.

Kendati demikian, laporan intelijen dan taktis menunjukkan kondisi sebaliknya. Keterbatasan rudal kendali jarak jauh dan pencegat pertahanan udara dilaporkan mulai membatasi fleksibilitas strategi militer AS. Penggunaan sistem pertahanan udara THAAD (Terminal High Altitude Area Defense) bahkan dilaporkan telah mencapai hampir 80 persen dari total stok yang dimiliki, memaksa komando militer untuk mengurangi intensitas serangan udara skala besar setelah melancarkan lebih dari 1.000 serangan pada hari pertama operasi.

Dampak Strategis pada Pangkalan AS di Timur Tengah

Konflik ini juga membawa kerusakan masif bagi infrastruktur militer AS di luar negeri. Serangan balasan dari Iran dilaporkan merusak dan menghancurkan ratusan bangunan serta fasilitas pertahanan di berbagai pangkalan AS yang tersebar di Kuwait, Bahrain, Qatar, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Irak, Oman, hingga Yordania. Pentagon sejauh ini belum memasukkan estimasi biaya rekonstruksi pangkalan-pangkalan tersebut ke dalam total kerugian karena masih belum adanya kepastian mengenai pihak yang akan menanggung beban finansial pemulihan tersebut.

Pertanyaan Terkait

Apa itu Operasi Epic Fury (OEF)?
Operasi Epic Fury adalah operasi militer Amerika Serikat yang diluncurkan dalam merespons ketegangan dan konflik bersenjata langsung dengan Iran di kawasan Timur Tengah.

Mengapa AS mengalami kekurangan amunisi?
Kekurangan ini disebabkan oleh tingginya volume penggunaan amunisi selama operasi berlangsung, yang tidak diimbangi oleh kapasitas produksi dan kecepatan pasokan ulang dari basis industri pertahanan domestik AS.

Meow! Tanya Nesi!
😸