Mendikdasmen Abdul Mu'ti Dorong Pembelajaran Asinkron Guna Atasi Rendahnya Literasi Siswa SMK Saat PKL
Edukator keuangan milenial dengan pendekatan yang mudah dipahami.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti menginstruksikan agar Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) tetap melanjutkan proses pembelajaran akademik meski siswa sedang menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL). Langkah ini menjadi respons strategis atas jebloknya nilai rata-rata kemampuan akademik siswa vokasi yang terungkap dalam data nasional terbaru, sehingga PKL tidak lagi boleh menjadi alasan terhentinya penguatan nalar siswa.
Urgensi Literasi di Tengah Rapor Merah Akademik
Kebijakan ini diambil bukan tanpa alasan kuat. Data Tes Kemampuan Akademik (TKA) SMK Tahun 2025 menunjukkan angka yang memprihatinkan, di mana rerata capaian Matematika hanya menyentuh 34,84 dan Bahasa Inggris di level 22,69. Rendahnya angka tersebut mengonfirmasi adanya kesenjangan besar antara keterampilan teknis lapangan dengan kemampuan fundamental siswa.
Mu'ti menekankan bahwa literasi dan numerasi bukan sekadar urusan akademik di atas kertas, melainkan fondasi vital dalam dunia kerja. Siswa dituntut mampu menafsirkan informasi teknis, menghitung presisi bahan, hingga menyusun laporan profesional. "Pembelajaran tidak berhenti ketika anak-anak kita melaksanakan PKL. Justru pengalaman di dunia kerja harus menjadi bagian dari proses pembelajaran," tegas Mu'ti pada Senin (14/9).
Model Asinkron: Solusi Menjembatani Sekolah dan Industri
Untuk mengatasi kendala jarak dan waktu selama siswa berada di lokasi industri, pemerintah mendorong penerapan model pembelajaran asinkron. Melalui pendekatan ini, siswa dapat mengakses materi, video instruksional, dan tugas secara mandiri tanpa harus terikat jadwal tatap muka dengan guru. Fleksibilitas ini dianggap krusial mengingat perbedaan akses internet dan pola kerja di berbagai mitra industri.
Integrasi kurikulum SMK yang adaptif diharapkan mampu mencetak lulusan yang tidak hanya terampil secara mekanis, tetapi juga memiliki daya nalar kritis dalam memecahkan masalah. Guru tetap memegang kendali penuh dalam memantau perkembangan serta memberikan umpan balik agar target pembelajaran tetap tercapai meski siswa tidak berada di ruang kelas.
Data capaian akademik yang rendah menjadi tamparan keras bagi kualitas pendidikan vokasi di Indonesia. Instruksi pembelajaran asinkron ini merupakan upaya darurat sekaligus korektif untuk memastikan lulusan SMK memiliki kompetensi yang utuh, sehingga mereka tidak sekadar menjadi operator teknis, melainkan tenaga kerja yang mampu beradaptasi dengan tuntutan industri global yang semakin kompleks.


