Alwi Farhan dan Zaki Ubaidillah Serap Ilmu Kento Momota Jelang Asian Games 2026
Mantan jurnalis olahraga yang kini berfokus pada analisis taktik sepak bola lokal maupun Eropa.

Tunggal putra Indonesia Alwi Farhan dan Moh Zaki Ubaidillah memperoleh masukan teknis langsung dari mantan juara dunia Kento Momota saat sesi latihan timnas badminton di NTT Central Training Center, Tokyo, Rabu (16/9), sebagai bagian final persiapan menghadapi Asian Games 2026 yang akan bergulir 20 hingga 29 September di Aichi dan Nagoya, Jepang.
Sesi dua jam itu dirancang pelatih guna mensimulasikan tekanan laga besar. Momota, yang pernah menduduki ranking dunia nomor satu dan mengoleksi 27 gelar BWF World Tour, tidak sekadar jadi sparring partner. Ia menghentikan rally berkali-kali untuk memperbaiki posisi kaki Alwi saat menerima servis pendek serta menyarankan Zaki lebih sabar membangun poin dari baseline.
"Kami tahu dulu Kento Momota se-superior apa dulu jadi bisa bermain bareng hari ini pastinya senang dan sebuah kehormatan. Pengalaman yang tidak bisa dilupakan," ujar Alwi dalam keterangan tertulis PBSI. Pemain berusia 19 tahun itu mengakui ritme permainan Momota β transisi pertahanan ke serangan yang tiba-tiba β memaksa dia bereaksi lebih cepat dibanding latihan biasa.
Zaki, yang baru pulih dari cedera lutut musim lalu, mendapat evaluasi spesifik soal pengelolaan stamina. "Tadi Momota sempat memberikan evaluasi dan masukan tentang cara main ke saya, soal membaca situasi di lapangan," tutur Ubed, sapaan akrab Zaki. Mantah juara All England 2019 dan 2021 itu menegaskan pentingnya variasi tempo, bukan sekadar kekuatan smash, untuk menguras lawan di partai tiga gim.
Tim Merah Putih yang beranggotakan 20 atlet β 10 putra dan 10 putri β akan berangkat ke Nagoya Kamis (17/9) pagi untuk masuk perkampungan atlet. Beregu berlangsung 20β24 September, diikuti perorangan 25β29 September di Ichinomiya City Municipal Gymnasium. Ini kali pertama Asian Games diselenggarakan di Jepang sejak Hiroshima 1994, dan Indonesia menargetkan minimal dua emas dari cabor unggulan ini.
Analisis Redaksi
Kehadiran Momota bukan sekadar gimmick promosi. PBSI dengan sengaja memanfaatkan jaringan NTT β sponsor utama Asosiasi Badminton Jepang β untuk mengakses otak taktis mantah atlet terdekorasi Asia. Dalam konteks persaingan beregu, di mana Indonesia kemungkinan besar bertemu Jepang di final, memahami cara berpikir nomor satu Jepang masa lalu setara dengan memiliki buku rahasia lawan. Alwi dan Zaki, keduanya masih di bawah usia 21 tahun, butuh gambaran konkret bagaimana pemain elit mengelola poin-poin kritis, bukan sekadar teori dari pelatih.
Yang perlu diwaspadai: transfer pengetahuan sesi tunggal tidak otomatis menjamin kinerja di gelaran sesungguhnya. Tekanan medal emas di depan penonton lawan β yang akan penuh di Ichinomiya β menciptakan variabel psikologis yang tak bisa direplikasi di latihan tertutup. Langkah logis selanjutnya adalah pelatih mengintegrasikan masukan Momota β misalnya variasi tempo dan pembacaan situasi β ke dalam skenario laga simulasi internal selama sisa hari di perkampungan Nagoya. Jika Alwi dan Zaki mampu mengeksekusi satu pun dari saran itu di bawah tekanan, investasi sesi Tokyo ini sudah berbuah.


