Satgas Cartenz Dalami Keterlibatan KKB Kodap III Ndugama dalam Pembunuhan Sopir di Habema
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Satgas Operasi Damai Cartenz mengaku tengah mendalami jejak Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) Kodap III Ndugama sebagai pelaku pembunuhan sopir lajuran AS (41) di Jalan Poros Habema Kilometer 32, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, Selasa (15/9) lalu.
Kasatgas Humas Operasi Damai Cartenz, Kombes Yusuf Sutejo, mengonfirmasi adanya informasi yang mengarah ke kelompok yang dipimpin oleh Ndugama itu. "Ada informasi yang mengarah kepada kelompok Kodap III Ndugama yang berada di sekitar lokasi, namun informasi tersebut masih harus kami dalami dan verifikasi lebih lanjut," ujarnya dalam keterangan tertulis, Kamis (17/9).
Yusuf juga membantah keras narasi yang disebarkan KKB soal identitas korban. Menurutnya, klaim bahwa sopir tersebut merupakan personel intelijen aparat keamanan hanyalah bohong belaka. "Berita yang menyebut sopir lanjuran merupakan anggota intel aparat keamanan adalah berita bohong atau hoaks. Sopir itu memang bekerja sebagai sopir dan sudah menjalankan pekerjaannya selama sekitar 13 tahun di jalur tersebut," tegasnya.
Kronologi yang terungkap menunjukkan korban berangkat dari Ilekma menuju Mbua membawa bahan kebutuhan pokok dan sembilan penumpang. Sekitar pukul 08.30 WIT, rombongan diduga dihadang kelompok bersenjata di kawasan Habema. Kendaraan dan jasad korban baru ditemukan keesokan harinya, Rabu (16/9) pagi, di bibir jurang kedalaman 13 meter dalam kondisi hangus terbakar.
Dari olah tempat kejadian, personel mengamankan satu butir selongsong amunisi laras panjang kaliber 5,56 milimeter serta satu buah tas berisi identitas korban. Yusuf menegaskan penyelidikan akan terus digulirkan hingga seluruh pelaku teridentifikasi dan diamankan. "Kami akan terus melakukan penyelidikan untuk mengejar dan menangkap pelaku kejahatan ini," pungkasnya.
Analisis Redaksi
Penentuan KKB Kodap III Ndugama sebagai tersangka utama menempatkan tekanan operasional pada satgas gabungan di wilayah yang memang jadi basis gerak kelompok tersebut. Verifikasi lapangan jadi kunci: apakah aksi ini terencana sebagai demonstrasi kekuasaan territorial, atau respons taktis terhadap aktivitas intelijen yang memang ada di jalur logistik vital Wamena-Mbua. Klaim hoaks soal status korban sebagai personel intel — meski dibantah — tidak bisa dibuang begitu saja; propaganda semacam ini sering jadi pembenaran pasca-aksi untuk mengikat narasi di kalangan pendukung.
Item bukti berupa selongsong 5,56 mm mengisyaratkan penggunaan senjata standar militer, menguatkan dugaan kapasitas militer KKB yang semakin meningkat. Jalur Habema sendiri sudah lama jadi rawan: jalur logistik tunggal, sulit diamankan penuh, dan historis jadi sasaran ambus. Langkah selanjutnya yang logis adalah pengecoakan personel intel di desa-desa pinggir rute serta pengamanan konvoi berbasis jadwal acak, tapi personel dan medan jadi kendala klasik yang tak selesai hingga kini.


