BMKG Petakan 12 Daerah Berpotensi Hujan di Tengah Dominasi Musim Kemarau

Teknologi
Fitriani NingsihFitriani Ningsih
Sumber: CNN Teknologi
Fitriani Ningsih
Fitriani Ningsih
Jurnalis Siber

Fokus pada isu keamanan siber, kecerdasan buatan, dan tren teknologi masa depan.

BMKG Petakan 12 Daerah Berpotensi Hujan di Tengah Dominasi Musim Kemarau
BAGIKAN:

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memprakirakan sejumlah daerah di Indonesia berpotensi diguyur hujan pada Minggu, 20 September 2026, meski kondisi kering masih mendominasi sebagian besar wilayah Tanah Air.

Hujan dengan intensitas sedang hingga lebat terpantau masih terjadi secara lokal dalam beberapa waktu terakhir. Catatan badan cuaca menunjukkan curah hujan lebat sempat melanda Aceh dengan intensitas mencapai 138,0 milimeter per hari pada periode 14 hingga 16 September 2026.

Potensi cuaca basah tersebut diprediksi berlanjut sepekan ke depan akibat pengaruh sejumlah dinamika atmosfer. Pada periode 18 hingga 24 September 2026, hujan berpeluang turun di Sumatra bagian utara hingga tengah, Kalimantan bagian utara hingga tengah, Sulawesi bagian tengah hingga selatan, Papua Pegunungan, serta Papua.

Analisis spasial lembaga meteorologi tersebut juga mengindikasikan potensi curah hujan lebih dari 150 milimeter per dasarian di pesisir barat Aceh dan pesisir barat Sumatra Utara yang diprediksi terjadi pada Dasarian I dan II Oktober 2026.

Aktivitas berbagai fenomena atmosferik menjadi motor penggerak pembentukan awan hujan di berbagai wilayah. Gelombang Rossby Ekuatorial terpantau aktif di Kalimantan Utara dan Kalimantan Barat, sementara Gelombang Kelvin aktif di Kalimantan bagian timur, pesisir utara Jawa Timur hingga Nusa Tenggara Timur, Sulawesi, Maluku, Maluku Utara, serta Papua bagian barat dan utara.

Selain gelombang atmosfer, sirkulasi siklonik yang terbentuk di Laut Cina Selatan turut memicu terbentuknya daerah perlambatan serta pertemuan angin memanjang di sejumlah wilayah. Dukungan labilitas lokal yang kuat membuat proses pengangkatan massa udara menjadi cukup optimal dan meningkatkan probabilitas hujan.

Analisis Redaksi

Fenomena hujan lokal di tengah dominasi cuaca kering mengindikasikan adanya anomali dinamika atmosfer yang kompleks di wilayah kepulauan Indonesia. Kehadiran Gelombang Rossby Ekuatorial dan Gelombang Kelvin secara bersamaan membuktikan bahwa siklus cuaca tidak berjalan linear, melainkan dipengaruhi oleh suplai uap air regional yang masih cukup masif meskipun musim kemarau sedang berlangsung.

Masyarakat di daerah rawan, khususnya pesisir barat Sumatra dan wilayah tengah Kalimantan, perlu mewaspadai potensi cuaca ekstrem mendadak akibat kombinasi sirkulasi siklonik dan labilitas lokal. Langkah mitigasi dini harus tetap disiagakan oleh otoritas daerah guna mengantisipasi dampak hidrometeorologi yang dapat terjadi sewaktu-waktu.

Meow! Tanya Nesi!
😸