IHSG Diproyeksi Melemah Rabu Ini, Dua Sekuritas Waspada Risiko Koreksi Lanjutan
Edukator keuangan milenial dengan pendekatan yang mudah dipahami.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksi melemah pada perdagangan Rabu (23/9) setelah tertekan hingga minus 1,69 persen sehari sebelumnya. Dua analis dari MNC Sekuritas dan Binaartha Sekuritas sepakat bahwa indeks saham masih dibayangi risiko koreksi jangka pendek sebelum kembali menguji area penguatan.
Analis Teknikal MNC Sekuritas Herditya Wicaksana memperkirakan IHSG masih berpotensi terkoreksi dalam jangka pendek sebelum kembali menguji area penguatan. "Kami memperkirakan posisi IHSG saat ini berada pada bagian wave a dari wave(x), sehingga berpeluang menguji area 6.208-6.258. Sementara itu, area penguatan terdekat berada di 6.333-6.364," ujar Herditya dalam riset hariannya.
Herditya memproyeksikan saham bergerak di rentang support 6.267, 6.108 dan resistance 6.440, 6.535 hari ini. Ia pun merekomendasikan sejumlah saham, yakni BBRI, PGAS, TPIA, dan AMRT.
Senada, Analis Binaartha Sekuritas Ivan Rosanova memperkirakan indeks saham masih dibayangi risiko koreksi setelah mencapai SMA-60 dan support Fibonacci 6.290 yang menjadi klaster support. Namun, peluang pemulihan tetap terbuka jika indeks mampu kembali menguat. "Jika tekanan jual berlanjut, IHSG berpotensi menguji support berikutnya di 6.159. Namun, apabila mampu menguat di atas 6.423, tekanan jual pada Selasa berpotensi menjadi false break," ujar Ivan.
Ivan memprediksi IHSG bergerak di level support 6.159, 6.015, dan 5.850 serta resistance 6.347, 6.423, 6.552, dan 6.712 hari ini. Dia juga merekomendasikan sejumlah saham, yakni INCO, INDF, INKP, KLBF, dan MBMA.
Beban pelemahan ini bukan tanpa dasar. IHSG ditutup di level 6.277 pada perdagangan Selasa (22/9) sore. Indeks saham melemah 107,68 poin atau minus 1,69 persen dari perdagangan sebelumnya. Mengutip RTI Infokom, investor melakukan transaksi sebesar Rp14,42 triliun dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 33,70 miliar saham. Pada penutupan kemarin, 139 saham menguat, 533 terkoreksi, dan 118 stagnan.
Analisis Redaksi
Angka 533 saham terkoreksi berbanding 139 yang menguat pada Selasa (22/9) memperlihatkan dominasi tekanan jual yang sangat masif. Transaksi Rp14,42 triliun dengan volume 33,70 miliar saham menunjukkan kepanikan pasar tidak terjadi dalam ruang hampa, melainkan diikuti perputaran dana besar yang mengindikasikan aksi lepas beban oleh pelaku pasar utama.
Kesamaan pandangan antara Herditya Wicaksana dan Ivan Rosanova soal potensi koreksi lanjutan menandakan konsensus analis sudah terbentuk ke arah bawah. Level 6.159 yang disinggung Ivan menjadi titik kritis berikutnya. Jika level ini jebol, target lebih rendah di 6.015 bahkan 5.850 bukan lagi sekadar skenario teknis, melainkan ancaman nyata bagi portofolio investor ritel.
Pelaku pasar perlu mencermati apakah penutupan Rabu (23/9) nanti mampu bertahan di atas klaster support Fibonacci 6.290. Kegagalan menahan level ini akan memaksa investor mengevaluasi ulang strategi jangka pendek mereka. Catatan Redaksi: Berita ini tidak dibuat untuk merekomendasikan atau tidak merekomendasikan saham tertentu. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan pembaca.
