Strategi Dual‑Growth Pertamina Dorong Ketahanan Energi Nasional: 17 PSN, 10 Proyek Hilirisasi, dan Ambisi SAF

Ekonomi & Pasar
Hendra GunawanHendra Gunawan
Hendra Gunawan
Hendra Gunawan
Pengamat Bisnis

Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Strategi Dual‑Growth Pertamina Dorong Ketahanan Energi Nasional: 17 PSN, 10 Proyek Hilirisasi, dan Ambisi SAF
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Pertamina meluncurkan strategi dual‑growth untuk memperkuat produksi hulu dan kapasitas hilir sekaligus mengembangkan bisnis rendah karbon.
  • Perusahaan mengelola 17 klaster Proyek Strategis Nasional (PSN) dan 10 proyek hilirisasi, termasuk biofuel, DME, dan rencana menjadi hub Sustainable Aviation Fuel (SAF).
  • Wadirut Oki Muraza menekankan pentingnya kolaborasi dengan Badan Pemeriksa Keuangan untuk mempercepat realisasi agenda ketahanan energi nasional.

Jakarta – Pertamina (Persero) kembali menegaskan perannya sebagai tulang punggung ketahanan energi Indonesia. Dalam panel diskusi yang digelar oleh BPK pada 29 Juli 2026, Wakil Direktur Utama Pertamina, Oki Muraza, menguraikan rangkaian inisiatif yang menggabungkan pertumbuhan tradisional dengan transisi energi bersih.

Strategi dual‑growth perusahaan menitikberatkan pada dua pilar utama: memperkuat bisnis eksisting melalui peningkatan produksi hulu serta memperluas kapasitas hilir, sekaligus mengakselerasi portofolio rendah karbon. "Langkah ini sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, khususnya pada poin swasembada energi, hilirisasi, dan pemerataan ekonomi," ujar Oki dalam pernyataan tertulisnya.

Saat ini Pertamina mengelola 17 klaster Proyek Strategis Nasional (PSN) dan tengah melaksanakan 10 proyek hilirisasi yang mencakup kilang & pengolahan, terminal BBM, biofuel & bioetanol, hingga konversi batu bara menjadi Dimethyl Ether (DME). Oki menekankan bahwa percepatan proyek‑proyek ini memerlukan sinergi lintas stakeholder, termasuk BPK sebagai pengawas dan mitra strategis.

Di sisi operasional, Pertamina mencatat produksi hulu sekitar 1 juta barrel oil ekuivalen per hari (boepd) dan kapasitas pengolahan setara 1 juta barrel per hari. Jaringan ritelnya telah meluas ke lebih dari 15 ribu titik, didukung oleh jaringan pipa gas sepanjang 33 ribu kilometer. "Ke depan, kami akan memperkuat penyimpanan BBM, mengembangkan bioetanol, dan mewujudkan visi menjadi hub Sustainable Aviation Fuel (SAF) untuk mendukung transisi energi berkelanjutan," pungkasnya.

Analisis Pakar

Strategi dual‑growth yang diusung Pertamina mencerminkan pemahaman mendalam tentang dinamika pasar energi global. Dengan menyeimbangkan antara peningkatan kapasitas tradisional dan diversifikasi ke energi bersih, perusahaan tidak hanya mengamankan pasokan domestik, tetapi juga menyiapkan diri untuk kompetisi internasional yang semakin mengutamakan keberlanjutan.

Pengelolaan 17 klaster PSN dan 10 proyek hilirisasi menunjukkan komitmen kuat terhadap agenda pemerintah, namun tantangan utama terletak pada eksekusi yang tepat waktu dan efisien. Keterlibatan BPK sebagai pengawas dapat menjadi katalisator untuk mengurangi risiko pemborosan dan memastikan akuntabilitas, asalkan mekanisme koordinasi tidak berujung pada birokrasi berlebih.

Investasi pada biofuel, bioetanol, dan DME menandai langkah strategis menuju dekarbonisasi sektor transportasi dan industri. Namun, keberhasilan komersial produk‑produk ini sangat bergantung pada kebijakan insentif pemerintah, harga energi global, serta kesiapan infrastruktur distribusi. Pertamina harus memastikan bahwa nilai tambah yang dihasilkan dari hilirisasi dapat bersaing dengan impor, terutama dalam konteks volatilitas harga minyak dunia.

Ambisi menjadi hub SAF adalah sinyal bahwa Pertamina berusaha masuk ke pasar premium yang masih dalam tahap pertumbuhan. Jika berhasil, hal ini tidak hanya meningkatkan citra hijau perusahaan, tetapi juga membuka peluang kerjasama dengan maskapai penerbangan internasional dan investor ESG. Namun, diperlukan roadmap yang jelas, termasuk pengembangan feedstock lokal, teknologi produksi SAF, dan mekanisme sertifikasi yang diakui secara global.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Apa itu strategi dual‑growth Pertamina?
    A: Strategi ini menggabungkan peningkatan produksi hulu dan kapasitas hilir tradisional dengan pengembangan bisnis rendah karbon seperti biofuel dan SAF.
  • Q: Berapa banyak proyek hilirisasi yang sedang dijalankan Pertamina?
    A: Saat ini ada 10 proyek hilirisasi yang mencakup kilang, terminal BBM, biofuel, bioetanol, dan DME.
  • Q: Bagaimana peran BPK dalam agenda ketahanan energi Pertamina?
    A: BPK berfungsi sebagai pengawas dan mitra strategis untuk memastikan transparansi, akuntabilitas, dan efisiensi pelaksanaan proyek‑proyek strategis nasional.
Meow! Tanya Nesi!
😸