Pelindo Resmikan OPS di Priok, Target 24 Unit 2027 dan 123 Unit Nasional 2050
Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

PT Pelabuhan Indonesia (Persero) secara resmi meluncurkan layanan Onshore Power Supply (OPS) di Dermaga Serbaguna Nusantara, Terminal PNP Dermaga 004, Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Rabu (16/09). Fasilitas berkapasitas 500 kVA itu memungkinkan kapal bersandar mematikan mesin bantu dan beralih ke pasokan listrik darat, menandai langkah konkret transformasi menuju green port.
Peluncuran dihadiri jajaran pejabat Kementerian Perhubungan, Kementerian ESDM, KSOP Utama Tanjung Priok, Polres Pelabuhan, INSA, PT PLN (Persero), dan manajemen Pelindo Group. Kepala KSOP Utama Tanjung Priok, Capt. Heru Susanto, menilai implementasi ini potensial menjadi best practice bagi pelabuhan lain di Indonesia guna menciptakan operasi yang lebih hijau, efisien, dan berkelanjutan.
Direktur Utama Pelindo, Achmad Muchtasyar, menegaskan OPS bukan sekadar pergantian sumber daya. "Ini merupakan langkah konkret dalam transformasi Pelabuhan Tanjung Priok menuju green port, dengan menghadirkan energi yang lebih efisien, lebih bersih, dan lebih andal," ujarnya. Kolaborasi dengan PLN melalui Dirut Darmawan Prasodjo memastikan keandalan pasokan listrik sebagai tulang punggung transisi energi di kawasan pelabuhan.
Hasil pengujian pada dua kapal uji menunjukkan potensi penghematan biaya energi 40% hingga 64% dibandingkan genset kapal, sekaligus memproyeksikan penurunan emisi gas buang hingga 75%. Emisi lokal NOx, SOx, dan partikulat pun tereliminasi sepenuhnya saat kapal menggunakan listrik darat. Berkurangnya running hours auxiliary engine juga meringankan beban pemeliharaan dan memperpanjang interval overhaul.
Pengelolaan layanan diserahkan kepada PT Energi Pelabuhan Indonesia (EPI), anak usaha Pelindo Group. Dirut EPI, Andriyuda Siahaan, mengonfirmasi fasilitas telah lolos Site Acceptance Test (SAT) dan uji coba kapal niaga pada Juli 2026. "OPS membuka pengembangan layanan energi lebih terukur bagi pengguna jasa berdasarkan konsumsi dan tingkat layanan yang dibutuhkan," katanya. Pelindo menargetkan 24 unit OPS di Tanjung Priok hingga 2027 dan mereplikasi model ini ke terminal multipurpose serta pelabuhan lain dengan roadmap indikatif 123 unit nasional pada 2050.
Analisis Redaksi
Peluncuran OPS di Dermaga 004 menggeser narasi green port dari komitmen kertas ke infrastruktur fisik yang terukur. Angka penurunan emisi 75% dan efisiensi biaya hingga 64% bukan sekadar proyeksi, melainkan data uji coba nyata yang memperkuat posisi Pelindo dalam negosiasi standar maritim global yang semakin ketat, seperti regulasi IMO soal Carbon Intensity Indicator (CII). Keterlibatan PLN sebagai penjamin kestabilan grid listrik menjadi kunci kepercayaan pelaku usaha shipping yang selama ini ragu soal keandalan pasokan darat.
Tantangan selanjutnya tidak lagi pada teknologi, melainkan pada ekosistem ekonomi di sekitarnya. Tarif jual listrik OPS kepada kapal harus kompetitif terhadap biaya operasional genset bertenaga Marine Gas Oil (MGO) atau Very Low Sulfur Fuel Oil (VLSFO) agar adopsi masif terjadi. Sementara itu, target 123 unit hingga 2050 menuntut standarisasi spesifikasi teknis dan prosedur pengoperasian antar pelabuhan agar tidak terpecah. Kesiapan armada dalam negeri untuk retrofitting sistem受电 (shore connection) juga menjadi variabel kritis di luar kendali Pelindo.
Langkah logis ke depan adalah penyusunan kerangka regulasi tarif dan insentif oleh Kementerian Perhubungan dan ESDM yang mendorong permintaan sisi kapal. Tanpa paksaan atau insentif finansial yang jelas, kapten kapal cenderung mempertahankan kebiasaan mesin bantu yang sudah terbayar. Replikasi ke pelabuhan non-Pelindo juga membutuhkan skema pembiayaan yang jelas, mengingat investasi infrastruktur OPS bersifat capital intensive dengan payback period yang bergantung pada volume lalu lintas kapal yang belum tentu padat di semua terminal.


